Independence Day 72'nd

(Tulisanku 2017 lalu)

Biarkan aku curhat sedikit tentang perasaanku setelah 72 tahun Indonesia merdeka. Aku sudah menyelesaikan membaca buku: Tan Malaka –Bapak Republik yang Terlupakan. Di buku itu jelas-jelas diceritakan tentang bagaimana dia pulang dari Belanda dengan satu tujuan yaitu mengubah nasib Indonesia dengan revolusi. Dan tak sekedar niat, dia merealisasikannnya lewat gerakan-gerakan revolusionernya dan bahkan lewat bukunya Naar de Republiek Indonesia menggagas sebuah Negara baru yang merdeka –Republik Indonesia (yeah now u know kan, yang menggagas konsep "Republik Indonesia" adalah Tan Malaka).

Dan memang Indonesia pun merdeka tepat seperti apa yang dicita-citakannya.  Dan seperti kebanyakan nasib pejuang di Indonesia lainnya, dia ditembak jua –kehilangan kepala di tanah air yang didambakannya.

Hari kamis, 17 Agustus 2017, Indonesia merayakan kemerdekaan untuk ketujuhpuluh dua kalinya. Apa yang berubah pasca kemerdekaan tahun 45? Tentu banyak perubahan. Wong presiden aja berubah kok.. kalau itu mau kita sebut sebagai perubahan. Well, di kampungku Sianjur Mulamula acapkali ada acara seperti ini, aku mulai dari SD ya cukup antusias mengikutinya walau tak tahu apa esensi sebenarnya dari kemerdekaan ini. Menjelang tujuh belasan, kami latihan marsitumba –menari, bernyanyi dan sebangsanya. Yah, tujuannya tak lain –walau bahasa halusnya menyemarakkan kemerdekaan tapi ‘motif’ lain ya mendapatkan sumbangan financial haha terserah apa komentarmu tapi aku memaknainya begitu. Tujuan jangka panjangnya apa? Entahlah hanya Tuhan dan guru-guru yang tahu. Aku sendiri sebenarnya tak masalah, toh aku mendapatkan uang kok dari ‘atraksi’ kami. Tapi uangnya kuambil sembunyi-sembunyi dari pandangan mata guru kami. Kalau ketahuan bisa didamprat aku..hahaha

Sampai sekarang aku masih bingung atau lebih tepatnya tidak tahu apa sebenarnya esensi dari kemerdekaan yang sesungguhnya karena selama ini yang dipertontonkan ‘orang dewasa’ padaku tak berhasil memuaskan ketidak-tahuanku. Hanya sebatas itu. 17 Agustus –merdeka –buat arak-arakan –menyambut bupati, camat, pejabat lainnya. Ah, untuk apa mereka disambut? Oh karena stigma yang dilabelkan masyarakat kepada mereka bahwa mereka adalah orang ‘hebat’ yang sudah sepantasnya berjalan di atas red carpet dan mendapat pujaan dari masyarakat sepanjang jalan? Karena mereka representasi dari masyarakat, oh bukan, karena mereka pemimpin dari masyarakat yang selayaknya disegani masyarakat? Aku pernah mendengar istilah ‘pemimpin yang melayani’. Adakah yang benar-benar seperti itu?  Entahlah karena konsep tersebut berasal dari kitab kepercayaan aliran tertentu jadi tak banyak yang mengetahuinya. Walaupun begitu, tentu ada prosedur hukum yang mengatur bagaimana pemimpin seharusnya. Ah sudahlah tak ada prosedur bodoh selama ada kekuasaan dan uang.

Butuhkah kita akan pemimpin? Seberapa besar mereka berkontribusi untuk memakmurkan rakyat? Adakah peran nyata mereka dalam perekonomian? Pertanyaan klise lainnya, apakah memang dibutuhkan pemimpin seperti mereka untuk menjalankan roda kendali pemerintahan? Apa yang kita rayakan dari kemerdekaan? Apa arti kemerdekaan yang sesungguhnya? Sudah sejauh mana kita memaknai kemerdekaan? Ya, jawaban klise di buku : merdeka berarti bebas dari belenggu penjajahan. Apakah sebatas itu?

Sejak SD aku belajar tentang sejarah, pahlawan, perjuangan pahlawan merebut kemerdekaan, Soekarno, Moh. Hatta, etc…apa titik kulminasinya?  Ya, merdeka! Mereka pasti mengharapkan Indonesia (rakyat) tidak hanya sebatas merdeka di atas kertas, tetapi merdeka menggunakan pemikiran dan akal sehat. Merdeka dari kebodohan, merdeka dari kemiskinan, merdeka dari penindasan, dan kuharapkan merdeka juga dari dogma-dogma menyesatkan yang abai terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dan harapanku tersebut tampaknya masih tidak sesuai harapan. Hahaha, apa yang bisa diharapkan manusia biasa sepertiku. Apalah aku, hanyalah mahasiswa yang masih wanti-wanti akan kecemasan tak beralasan menyambut semester 3 haha (sebatas curhat yang tak butuh nasihat).

Tapi jauh di lubuk hatiku, aku ingin sepenuhnya menjadi pribadi yang benar-benar merdeka. Aku ingin merdeka dari segi pola pikir. Merdeka dari dogma yang abai terhadap nilai-nilai kemanusiaan.  Merdeka dari kebodohan. Merdeka dan tak kehilangan akal sehat  –seperti Tan Malaka.

-15 Agustus 2017-

Post a Comment

0 Comments