Review Buku Guns, Germs and Steel (Rangkuman Riwayat Masyarakat Manusia) oleh Jared Diamond


Kalau Anda mengikuti tulisan-tulisan saya sebelumnya, like I said, pada akhirnya semua hal di muka bumi ini akan bergerak menuju ke kesetimbangan.  Pada judul yang Anda baca, ulasan penjelasan mengenai hal tersebut dapat kita tinjau dari dua sisi: sisi pertama adalah manusia memperbudak mikroba, dan sisi kedua adalah mikroba memperbudak manusia. Mari kita tinjau sisi pertama. Contoh yang lebih nyata yang akan saya paparkan adalah pada TA (Tugas Akhir) saya, topiknya adalah activated sludge/lumpur aktif. Intinya, lumpur aktif terdiri dari sekumpulan mikroba, dan mikroba tersebut dimanfaatkan untuk mendegradasi polutan supaya aman dibuang ke lingkungan. 

Polutan yang dimaksud adalah surfaktan dan amonia pada limbah deterjen yang akan didegradasi mikroba dengan cara memutus rantai ikatan senyawa surfaktan dan amonia menjadi senyawa yang lebih sederhana. Senyawa yang lebih sederhana tersebut akan dimanfaatkan mikroba dalam lumpur aktif tersebut untuk tumbuh kembangnya :D. Senyawa yang lebih sederhana tersebut jika dibuang ke lingkungan juga akan lebih mudah terurai. Selain itu pada perancangan pabrik (matkul capstone selain TA), topiknya adalah produksi bioetanol menggunakan mikroba dengan kapasitas produksi 125 juta liter per tahun. Dalam konteks yang saya sebutkan tadi, saya (kami) memanfaatkan mikroba untuk melakukan keinginan kami atau bahasa halusnya (wkwk) adalah memperbudak mikroba untuk kepentingan manusia.
full-width
Sekarang, mari kita tinjau sisi kedua –mikroba memperbudak manusia. Tinjauan ini saya uraikan berdasarkan buku berjudul “Guns, Germs and Steel” oleh Jared Diamond. Ada satu kasus menarik yang diceritakan pada buku tersebut, ada seorang pria yang menderita pneumonia, yang disebabkan oleh mikroba tak teridentifikasi. Setelah usut punya usut, ternyata pria tersebut belum lama sebelum terjangkit penyakit, dia berhubungan seksual berulang-ulang dengan domba saat mengunjungi peternakan keluarga. Kasus tersebut mencontohkan satu topik besar yang sangat penting: penyakit manusia yang berasal dari hewan. Pembunuh utama umat manusia dalam sejarah manusia modern –cacar, flu, TBC, malaria, pes, campak dan kolera –adalah penyakit menular yang berevolusi dari penyakit hewan.

Tadaa, ini bukunya (Sumber : punya sendiri :))

Epidemi paling parah dalam sejarah manusia adalah epidemi influenza yang membunuh 21 juta orang pada akhir Perang Dunia I. Wabah pes membunuh seperempat penduduk Eropa antara tahun 1346-1352, dengan jumlah korban jiwa mencapai 70% di sejumlah kota.  Contoh lainnya adalah penaklukan Amerika oleh orang Eropa yang diawali oleh pelayaran Colombus pada 1492. Penyusutan populasi Indian dalam satu atau dua abad setelah kedatangan Colombus diperkirakan mencapai 95%.  Pembunuh utama adalah mikroba yang dibawa orang Eropa. Mikroba tersebut tidak pernah dihadapi orang Indian sehingga mereka tidak mempunyai resistensi terhadap mikroba tersebut. Mikroba tersebut menyebabkan cacar, campak, influenza, tifus, difteri, pes, dll. Ada satu desa yang terserang cacar, populasinya menurun dari 2000 jiwa menjadi 40 dalam beberapa minggu. Sampai Perang Dunia II, lebih banyak korban perang yang mati akibat mikroba yang tersebar akibat perang daripada luka karena pertempuran. Artinya tidak selalu pemenang perang hanya yang mempunyai bala tentara terkuat, tetapi justru mereka yang menularkan mikroba paling berbahaya kepada musuh.

Gak usah jauh-jauh ke Eropa, dalam buku “O Tuanku Rao” karya M.O. Parlindungan Siregar, di Tanah Batak sendiri pada tahun 1800 merebak wabah Penyakit Begu Attuk. Penyakit itu merupakan sebutan lain orang Batak zaman dahulu untuk menyebut penyakit kolera yang disebabkan mikroba Vibrio cholerae. Penularan wabah ini diperparah oleh kedatangan Pasukan Padri Minangkabau untuk menaklukkan Tanah Batak. Penaklukan itu berujung pada kematian 200.000 orang Batak. Kewalahan dengan banyaknya mayat tersebut, akhirnya mayat dibuang di sungai yang berakibat pada meluasnya wilayah yang terserang wabah kolera. Hal ini dikarenakan sumber air untuk digunakan masyarakat sehari-hari berasal dari sungai yang sudah tercemar tersebut.

Salah satu agenda peperangan yang gagal adalah melakukan islamisasi di Tanah Batak, namun pada akhirnya Pasukan Padri mundur, bukan karena kalah tetapi karena wabah kolera juga mulai menyerang mereka. Kabar mundurnya Pasukan Padri dimanfaatkan Gubernur Jenderal Inggris, Stamford Raffles untuk melakukan penginjilan/kristenisasi di Tanah Batak. Akhirnya diutuslah tiga orang misionaris dari Baptist Mission Society of England. Salah seorang dari ketiganya adalah ahli kesehatan, yang kemudian ditunjuk untuk menyelidiki wabah kolera yang melanda Tanah Batak. Dua misionaris lainnya adalah linguis yang menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Batak, dan guru yang kemudian mendirikan sekolah-sekolah  di Tapanuli. (hayoo guys, yang orang Batak Kristen, apakah memang gara-gara mikroba-nya kita jadi Kristen? wkwk)

Bagaimanapun, mikroba juga produk seleksi alam, seperti kita. Manfaat evolusioner apa yang diperoleh mikroba dari membuat kita sakit flu, mencret, atau covid-19 disease, misalnya? Lagipula mengapa mikroba berevolusi sampai bisa membunuh kita? Hal tersebut sangat membingungkan, karena jika inang (kita) terbunuh, maka mikroba bakalan terbunuh juga. Pada dasarnya, mikroba berevolusi seperti spesies lain. Evolusi menyeleksi individu  yang paling efektif dalam menghasilkan anak dan membantu mereka menyebar ke tempat yang cocok  untuk hidup. Mikroba mengembangkan berbagai cara untuk menyebar dari satu orang ke orang lain dan dari hewan ke manusia. Mereka yang paling ‘pintar’ dalam menyebar akan meninggalkan lebih banyak keturunan, yang artinya unggul pada seleksi alam. Banyak gejala penyakit kita sebenarnya merupakan cara sejumlah mikroba ‘pintar’ yang kurang ajar itu memodifikasi perilaku kita sehingga kita menjadi 'budak' mereka dalam menyebarkan mikroba 'anak-anaknya'.

Cara yang paling gampang bagi mikroba untuk menyebar adalah menunggu saja sampai dia ditularkan ke korban berikutnya. Misalnya Salmonella typhii penyebab tifus, menjangkiti kita bila kita memakan makanan yang sudah terinfeksi.  Cara lain adalah menumpang di ludah serangga yang menggigit inang yang lama dan terbang untuk menginfeksi inang baru. Serangga tersebut bisa berupa kutu, nyamuk atau lalat yang menyebarkan malaria dan pes. Penularan pasif lainnya adalah mikroba berpindah dari inang ke janin yang dikandung, sehingga menginfeksi bayi yang baru lahir. Misalnya, penyakit rubela, AIDS, sifilis dapat tertular  ke bayi yang tak bersalah oleh ibunya sendiri. Hal ini menimbulkan ‘peperangan’ batin orang-orang yang mengimani semesta pada dasarnya adil. Saya sendiri adalah salah satu dari orang yang merasa biasa aja ketika melihat ketidakadilan. Misalnya, saya tidak secantik Dian Sastro, itu salah satu contoh ketidakadilan kan? Wkwk, terus dengan ketidakadilan tersebut, kau bisa apa? Dian Sastro boleh sombong akan kepiawaiannya dalam berakting, tapi coba suruh beliau merancang alat heat exchanger seperti job desc aku di matkul rancang pabrik wkwkk. 

Ini dia, mikroba sialan yang memperbudak kita (Sumber : Google)

Cara “pintar” lain mikroba penyebab influenza, batuk rejan, dan termasuk covid-19 adalah merangsang korban untuk batuk atau bersin supaya langsung ‘menumpahkan’ mikroba ke arah calon inang baru. Bakteri kolera merangsang diare pada korbannya sehingga menghantarkan mikroba ke pasokan air calon korban baru. Virus rabies memodifikasi perilaku inang (anjing) menjadi suka menggigit sehingga menginfeksi korban baru. Dengan demikian, dari sudut pandang manusia, diare dan batuk adalah gejala penyakit. Tetapi dari segi mikroba, itu adalah strategi evolusi cerdik mereka untuk menyebarkan spesiesnya. Walaupun pada akhirnya inang meninggal, yang akibatnya mikroba juga akan mati, tetapi setidaknya selama inang belum meninggal, mikroba keturunannya sudah menginfeksi korban yang baru.

Tanggapan kita? Ya sebagai makhluk yang berotak, kita harus tetap mempertahankan kelangsungan hidup kita/survive dengan cara membunuh mikroba sialan itu, sebelum kita yang dibunuh. Kayak anjuran prokes pakai sabun dan hand sanitizer untuk membunuh si virus covid-19. Etanol pada hand sanitizer akan memutuskan selubung lemak virus dan surfaktan pada sabun akan menarik lemak virus sehingga virus akhirnya mati. Kalau pada akhirnya virus berhasil menginfeksi kita, tanggapan pertama tubuh kita adalah meninggikan suhu tubuh (demam). Beberapa mikroba lebih sensitif terhadap panas daripada tubuh kita sendiri sehingga tubuh mencoba ‘memanggang’ mikroba tersebut. Reaksi lain tubuh adalah memobilisasi sistem kekebalan tubuh sehingga sel darah putih akan melawan mikroba asing tersebut. Sewaktu kita kecil, kita pasti pernah divaksinasi yang bertujuan untuk merangsang produksi antibodi tanpa kita harus mengalami penyakit tertentu, dengan memasukkan galur mikroba yang sudah diperlemah ke tubuh kita.

Tetapi si mikroba ‘cerdas’ itu bisa menipu kita dengan mengubah potongan molekul mikroba yang dikenali antibodi kita. Mutasi terus menerus galur baru flu menjelaskan mengapa kita terserang flu setengah tahun lalu, ternyata kita masih rentan sehingga masih terserang juga saat ini. Tanggapan pertahanan kita yang paling lamban adalah melalui seleksi alam, yang mengubah frekuensi gen-gen kita dari generasi ke generasi. Untuk beberapa penyakit, sejumlah orang terbukti lebih kebal secara genetis daripada orang lain.  Dalam perjalanan sejarah, populasi manusia yang berulang-ulang terpapar kepada patogen tertentu memiliki persentase lebih tinggi gen resistensinya dibanding yang jarang terpapar patogen.

Mikroba berevolusi agar bisa menyebar di antara calon-calon korban baru. Muslihat mikroba tersebut kita alami sebagai gejala penyakit.  Kita juga mengembangkan kontra-muslihat untuk melawan muslihat mikroba, yang kemudian ditanggapi mikroba ‘pintar’ itu dengan kontra-kontra-muslihat. Kita dan patogen terkunci dalam lomba evolusioner yang semakin memanas, dengan kematian salah satu pihak merupakan harga yang harus dibayar oleh yang kalah, di mana seleksi alam berperan sebagai wasit HAHAHA. 

Mikroba patogen memperbudak kita dengan mengambil nutrien dari tubuh kita untuk tetap hidup. Oleh sebab itu pemirsa, kalau dipikir-pikir, manusia itu banyak saingannya ya, dari yang terlihat dan tak terlihat (mata telanjang). Tapi, kalau bisa membunuh mikroba patogen dan memperbudak mikroba lain, kenapa tidak?

Post a Comment

0 Comments