Konser Orkestra Musik Spanyol Vinculos for Indonesia 2017


(Tulisan ini pertama kali ku-post di facebook setahun lalu--2017)

Hari ini diadakan konser orkestra Spanyol di kampung halamanku di Sianjur Mulamula, tepatnya di Rumah Belajar Sianjur Mulamula, Samosir, Sumut. Saya berkesempatan untuk melakukan percakapan sederhana dengan mereka. Vinculos stands for “link” kata Manuel, salah seorang musisi yang saya ajak ngobrol. Yang artinya membangun hubungan Indonesia dengan Spanyol tak hanya hubungan diplomatik tetapi kunjungan mereka ke Indonesia (for the first time in Asia) membawa misi pertukaran budaya, sosial, dan pendidikan.

Membawa tema unidad en la diversidad (berbeda-beda tetapi tetap satu), konser ini diharapkan mendorong sadar pariwisata dari masyarakat sendiri supaya pesona Danau Toba semakin berkembang. Sehingga ke depannya, kesadaran masyarakat diharapkan akan berbanding lurus dengan perekonomian masyarakat khususnya pesisir Danau Toba.

Orkestra tersebut sangat menghibur dan bagus menurut saya (well, bagus menurut kaum awam di music seperti saya, lagian musik kan universal hehee). Mereka memadukan nada-nada dari lagu tradisional Batak dengan orkestra di Eropa sana. Dan lucunya, mereka juga melibatkan anak-anak dari rumah belajar untuk berpartisipasi. Anak-anak dipandu membunyikan lonceng (bagian dari orkes), menari, dan bahkan menjadi conductor (pemimpin orkestra) yang berhasil memancing selera humor penduduk lokal. Mereka menyajikannya dengan penuh interaktif.

Anak-anak dari Rumah Belajar Sianjur Mulamula sangat antusias dalam acara ini. Mereka menari dan bernyanyi untuk menghibur, bahkan ada juga yang menurut saya cukup berani untuk seusianya mengucapkan sepatah dua patah kata mengucapkan terima kasih kepada tim orchestra dari Spanyol dan juga kepada stakeholder pemkab Samosir, dan bahkan menambahkan beberapa umpasa Batak Toba. Wow, terbilang berani menurutku jika kubandingkan dengan diriku dulu semasa SD hahahah.

Bapak Bupati Samosir yang juga turut hadir dalam acara ini. Dia mengapresiasi adanya Rumah Belajar Sianjur Mulamula ini. Yang dengan kata lain, juga turut membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Beliau berjanji di hadapan masyarakat akan membantu keberlangsungan rumah belajar ini, dari segi fasilitas dan akses buku. 

Beliau menambahkan, akses sepanjang jalan menuju kawasan ini akan dibangun lebih baik (yang notabene jalan menuju desa ini rusak parah). Miris memang, sudah 70 tahun lebih merdeka, tetapi merdeka hanya di atas “kertas”. Negeri ini belum merdeka dari segi pola pikir. Kuharap he’ll keep his words...kawan-kawanku di Facebook ini yang menjadi saksi (well, sekarang yang membaca blog ini)

lupa aku nama si cowok ini wqwqwq

Saya bertanya secara pribadi dengan salah satu dari tim orkestra, secara pribadi dia merasa menikmati kunjungannya ke Indonesia. “I’m enjoying another side of the world in this place” katanya. Yang lain menambahkan kompleks pedesaan dan rumah Batak mengingatkannya pada desa neneknya dulu. Mereka menyukai budaya dan (seperti selalu) keramahan kita. Mereka yang notabene bukan bertanah air di Indonesia mencintai budaya kita, bagaimana dengan yang asli bertanah air di Indonesia sendiri?

Saya berkesempatan untuk berfoto bersama salah satu dari mereka. Saya memang bukan pemuja ras Kaukasia seperti kebanyakan teman-teman Indonesia yang mengidamkan pasangan bule wkwkw (demi memperbaiki keturunan katanya, entah kenapa mental inlander ini masih aja exist). Saya bertujuan semata-mata hanya sebatas kenangan, siapa tahu nanti bisa berjumpa di Santiago Bernabeu (dia juga pecinta Real Madrid sepertiku) hahahah.  Tak apa bermimpi selama bermimpi itu tidak merugikan orang lain (ya namanya juga mimpi, kalo realisasinya itu sudah soal lain wkwk).

Buat kawan-kawan yang hingga kini masih “memuja” seseorang berdasarkan ras, come on guys, wake up!! Kita sudah merdeka, jangan biarkan mental kita masih terjajah juga ..peace!!

[EDIT]
Ini ada special note soal "ras" supaya kita punya perspektif saintifik akan hal tsb.

Kalau kita berbicara soal sejarah kemunculan ras, konsep ras awalnya merujuk pada kategorisasi manusia berdasarkan perbedaan ciri fisik (fenotip) dan lokasi geografis. Motifnya adalah karena pada masa perbudakan yang dilakukan Eropa, mereka menjajah orang yang memiliki fenotip kulit hitam/gelap yang umumnya berasal dari Afrika.

Sementara, kalau berdasarkan analisis DNA, persamaan genetik yang ditemukan antara satu manusia dengan yang lain bahkan 99,9%. Kalau kita mau memakai ras sebagai acuan untuk membedakan asal geografis dan gen orang, hal itu gak terbukti secara empiris. Variasi genetik makhluk hidup muncul dari naturally-occuring dari DNA yaitu mutasi. Variasi genetik ini yang membuat variasi penampilan fisik manusia, dan itu tidak dibatasi hanya berasal dari satu gen doang, tapi bisa aja kombinasi dari berbagai gen. Tats why, sulit dilakukan pengelompokan ras yang presisi secara genetik. Makanya bisa aja seseorang punya penampilan fisik yang sama dengan yang lain, tetapi dia justru lebih dekat secara genetik dengan orang lain yang penampilan fisiknya berbeda dengan dia.

sumber: https://sitn.hms.harvard.edu/flash/2017/science-genetics-reshaping-race-debate-21st-century/


Kalo untuk membedakan asal geografis, gak relevan juga. Karena seiring perkembangan teknologi dan transportasi, manusia semakin mudah untuk bermigrasi ke wilayah lain. Maka, sebaran gen yang awalnya terpusat di satu tempat, akhirnya menyebar ke wilayah lain.

Tetapi kalau kita mau memakai definisi ras "pengelompokan manusia berdasarkan ciri fisik" ya sah-sah aja, toh faktanya manusia dari kondisi geografis berbeda cenderung memiliki penampilan fisik berbeda. Intinya, bisa2 aja kita membuat pengelompokan, tetapi basis pembuktian definisinya harus empirically researched.

Referensi: 
https://sitn.hms.harvard.edu/flash/2017/science-genetics-reshaping-race-debate-21st-century/
https://evolution.berkeley.edu/evolibrary/article/evo_20
nb. karena aku salah satu anggota  @velmadotme IG, sebagian aku sadur dari konten tsb

-1 Agustus 2017-

Post a Comment

0 Comments