Pesta Demokrasi Sumut 2018 (dari suara hatiku yang terdalam)

Tahun 2018 merupakan tahun saat masyarakat Sumatera Utara untuk yang kesekian kalinya memilih pemimpin (gubernur). Saya yang sudah ditetapkan sebagai daftar pemilih tetap ‘kebetulan’ menggunakan hak pilih saya. Mamak-mamak yang di kampung saya beberapa memilih golput. Saya teringat perkataan kawan di sosmed “Golput bukan pilihan. Apa salahnya kita menggunakan hak kita untuk memilih?”

Saya berpendapat bahwa hak memilih itu adalah “hak” bukan kewajiban. Jadi hak itu boleh dipakai dan boleh tak dipakai tak terkecuali untuk memilih sekalipun, beda kalau kasusnya kewajiban. Mungkin itulah yang di pikiran mamak-mamak itu pikirku hahahaa sehingga mereka lebih mementingkan untuk menggosip dibanding ke TPS. “Loja ho inang mamillit i, tong nama songoni parngoluan on, dalan an taon hu taon ganti do pamaretta tong do sega, holan hata do i (tak usah kau buang waktumu memilih mereka inang, toh nya kehidupan berjalan seperti biasa, janji mereka (para kandidat yg mencalonkan diri) cuman isapan jempol belaka) sahut mereka padaku. Entahlah, saya tetap optimis, melihat perubahan belakangan ini khususnya di kampung halaman saya.

Sarana dan prasarana saya lihat telah nyata di depan mata saya dibanding tahun-tahun sebelumnya semasa saya SMA. Irigasi diperbesar dan diperpanjang, jalanan di belakang rumah saya dekat kompleks SD saya telah diperbaiki, sejumlah traktor dan tresher (mesin perontok padi) telah dibagikan cuma-cuma melalui program pemberdayaan kelompok tani BUMDES (Badan Usaha Milik Desa).

Tetapi pada praktiknya, sarana (berupa traktor dan tresher) kurang dimaksimalkan masyarakat dan kabarnya beberapa ada yang menjadi barang milik pribadi dan akhirnya dijual. Tak ada yang menuntut. Saya bingung bagaimana mekanisme pertanggungjawaban nantinya ke pihak yang terkait. Entahlah, karena kampung halamanku merupakan daerah yang diikat oleh kekerabatan adat/marga yang masih kental jadi semua urusan bisa selesai dengan ‘mardame-dame’ (berdamai-damai).

Tetapi mamak-mamak tadi pesimis terhadap pemimpin sendiri, gak akan ada perubahan katanya. Seandainya saya punya keberanian, saya harusnya tadi teriak, “Hanya dirimu yang bisa membawa perubahan terhadap dirimu sendiri, jangan harapkan orang lain, pemerintah (pemimpin) itu anggap saja pelengkap sehingga kau tak mudah menyalahkan orang, Namboru.”

Tak salah menurutku mengkritik pemerintah, namun menyalahkan pemerintah yang tak becus sementara diri sendiri pun tak bisa mengoptimalkan dan merawat  fasilitas publik yang disediakan merupakan hal yang sungguh terlaluh (menurut Bung Rhoma Berirama hahaaa). Yaah apalagi kan dana buat pembangunan itu  dari duit pajak Namboru juga kan :D.

Jim Collin mendefinisikan pemimpin memiliki beberapa tingkatan, terendah adalah pemimpin yang andal, kemudian pemimpin yang menjadi bagian dalam tim, lalu pemimpin yang memiliki visi, tingkat yang paling tinggi adalah pemimpin yang bekerja bukan berdasarkan ego pribadi, tetapi untuk kebaikan organisasi dan bawahannya. Ya, tak saya pungkiri, salah satu penyebab kekecewaan masyarakat sendiri akan pemimpin pada Pilgub (dan kebanyakan pilkada lainnya) ini adalah  kasus korupsi yang dilakukan pemimpin yang notabene telah diberikan kepercayaan penuh oleh rakyat.  Orang memang rela membayar mahal demi uang dan kekuasaan. Sumut tak kalah ‘hebat’. Gubernur sebelumnya berturut-turut dibui karena terjerat kasus korupsi. Rakyat mau bilang apa? Tak lain dan tak bukan melanjutkan kehidupan seperti biasa karena hidup harus terus berjalan.

Tetapi, ujung-ujungnya saya katakan “wahai rakyat Sumut :D, kita sudah memilih, pertandingan  sudah usai”. Pemenang akan bersuka dan yang kalah bersedih, berikut pendukungnya. Berbahagialah secukupnya, bersedihlah seperlunya. Kita sambut pemimpin baru kita, siapapun dia. Terlalu naïf kalau kita menyandarkan perubahan pada pemimpin semata. Kita awali perubahan itu sendiri dari dalam diri kita, bukan malah mencari-cari orang untuk  disalahkan untuk mencari pembenaran diri.

Selamat kepada pemenang. Selamat memimpin Sumatera Utara. Dan please deh, jangan menambah ‘kehebatan’ Sumut dengan mencetak rekor ‘triple’ korupsi berturut-turut. I tip my hat to you.

Hehe (dilarang muntah :p)



-5 Juli 2018-

 


Post a Comment

0 Comments