Book Review
Review Buku Tan Malaka : Bapak Republik yang Terlupakan
(Fyi, Bapak Tan Malaka ini bapak revolusioner yang berpengaruh terhadap pemikiran politik Soekarno)
![]() |
| Sumber : google |
Memiliki nama lengkap Ibrahim Datuk Tan Malaka, jejak hidup
dan pemikirannya penuh dengan tantangan sehingga mendapat julukan ‘Si Macan’
dari Payakumbuh, Sumatera Barat. Dia cerdas sehingga direkomendasikan untuk
melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru Negeri di Fort de Kock yang pada umumnya
dihuni oleh kaum borjuis. Walaupun keluarganya berekonomi miskin, tak menyuruti
semangatnya untuk bersekolah hingga alhasil dia diterima di sekolah tersebut.
Puncaknya pada Oktober 1913, dia berangkat ke Belanda untuk melanjutkan
pendidikan.
Kedatangan Tan di Belanda tepatnya di kota miskin Haarlem
membuatnya harus cepat menyesuaikan diri
dengan kehidupan barunya dengan uang bulanan yang pas-pasan. Di tengah
perjalananannya dalam mengarungi arus kehidupan, dia merasa sudah saatnya ada
revolusi di Indonesia agar terlepas dari imperialisme. Dimulai dari munculnya
revolusi komunis di Rusia pada tahun 1917 memperkuat keyakinan Tan.Tan pulang
dengan hanya satu cita-cita : mengubah nasib bangsa Indonesia melalui revolusi.
Di Indonesia, Tan bekerja menjadi guru sekolah rendah di
perkebunan teh Belanda di Deli, Sumatera Utara. Pengalamannya bergaul dengan
dengan kaum proletar makin memantapkan Tan maju di sektor pendidikan. Rakyat
hanya bisa merdeka dengan pendidikan kerakyatan tuturnya. Dia kemudian pergi ke
Semarang pada tahun 1921 atas ajakan Semaun—pemimpin Sarekat Islam Semarang
yang berhaluan komunisme. Keduanya sepakat membangun sekolah rakyat Murba,
sebutan untuk kaum proletar. Dia menjadikan Marxisme dan antikolonialisme
sebagai dasar kurikulumnya. Sayang, Tan tertangkap Belanda dan dibuang ke Belanda tanpa menyaksikan
kesuksesan sekolah yang dibangunnya.
Pada tahun 1924, Tan mendapat perintah dari Moskow untuk
hadir pada konferensi di kota Kanton, China. Disela-sela kesibukannya dengan
para revolusioner ‘kiri’ dia sempat menulis buku berjudul Naar de Republiek
Indonesia. Ini buku pertama yang menggagas sebuah negara merdeka bernama
Republik Indonesia. Buku kecil ini terdiri atas 3 bab, masing-masing mengulas
situasi politik dunia, kondisi Indonesia, dan garis perjuangan Partai Komunis
Indonesia. Pada subbab terakhir, Tan mengecam kaum terpelajar Indonesia yang
menurut dia masa bodoh dengan perjuangan kemerdekaan. Buku ini menjadi semacam
buku pegangan wajib bagi Soekarno. Bahkan Muhammad Yamin juga memuja Tan. Bagi
dia, Tan tak ubahnya Bapak Bangsa Amerika Serikat, Thomas Jefferson dan George
Washington : merancangkan Republik sebelum kemerdekaannya tercapai.
Tan kemudian meninggalkan Tiongkok dan berlayar ke Burma.
Tan senang hidup di Filipina. Teman banyak, dukungan banyak dan udaranya mirip
Tanah Air. Presiden Filipina bahkan menyatakan Tan sebagai seorang patriot,
pemimpin besar revolusioner, yang layak mendapat suaka. Rakyat Filipina sangat hormat
kepadanya.
Tan mulai berpartisipasi aktif dalam gerakan komunis dengan
Islam untuk menghadapi imperialisme Belanda. Tan berkata “ kalau perbedaan
Islamisme dan komunisme kita perdalam dan kita lebih-lebihkan, kita memberikan
kesempatan kepada musuh yang terus mengintai untuk melumpuhkan gerakan
Indonesia.” Tetapi usahanya untuk menyatukan kedua kubu gagal karena
teman-temannya tidak sepemahaman dengan dia.Tetapi komunis internasional memilih Tan sebagai pengawas
untuk Indonesia, Malaya, Filipina, Thailand, Burma dan Vietnam. Tetapi pengurus
dari Partai Komunis Indonesia ada saja yang tidak setuju.
Pemberontakan yang sejak semula direncanakan oleh PKI
meletus kemudian. Keputusan tersebut dibuat dengan tergesa-gesa dan tanpa
persiapan yang memadai. Pemberontakan tersebut akhirnya dapat ditumpas dengan
segera. Para pemberontak ditangkap. Orang-orang PKI menuduh Tan ada dibalik
kegagalan pemberontakan tersebut. Padahal jelas-jelas Tan tidak menyetujui gerakan tersebut lewat perkataanya kepada
Alimin di Filipina.
Di mata Tan, melakukan pemberontakan adalah sia-sia karena
ketidakmatangan persiapan. Pembenahan organisasi masih kurang memadai.
Tanggapan ini dituliskan Tan dalam bukunya Massa Actie. Di dalam Massa Actie,
Tan membongkar kultur takhayul yang mendarah daging di bangsa ini,
memperkenalkan macam-macam imperialisme, menunjukkan arti revolusi dan
menunjukkan bagaimana kekuatan rakyat bisa dimanfaatkan.
Inilah semacam cetak
biru bagi revolusi massa: desakan kuat dari bawah untuk mendorong perubahan.
Melakukan putsch di Indonesia sama saja dengan bermain api: tangan sendiri
yang akan hangus. Artinya melakukan tindakan pemberontakan hanya akan jadi
boomerang terhadap partai sendiri. Sialnya, pesan berjudul Massa Actie di Indoesia itu terlambat keluar dari percetakan.
Pemberontakan Partai Komunis Indonesia 1926 sama sekali gagal menggoyang
kekuasaan Belanda. Banyak pendukung terbunuh, para pemimpin dipenjarakan dan
dibuang.
Tan Malaka meninggal pada usia 52 tahun. Dia berbicara
bermacam-macam bahasa: Melayu, Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Tagalog, dan
Tionghoa. Di Amoy dia mendirikan Foreign Languages School. Di Singapura dia
menjadi guru Bahasa Inggris dan matematika. Sebelum dibuang keluar negeri dia
dipenjarakan di Bandung, Semarang dan Jakarta.
Karya lain Tan Malaka adalah buku Madilog: materialisme, dialektika dan logika. Materialisme diperkenalkannya sebagai paham tentang materi sebagai dasar terakhir alam
semesta. Logika dibutuhkan untuk menetapkan sifat-sifat materi berdasarkan
prinsip identitas atau prinsip nonkontradiksi. Prinsip logika berbunyi: A tidak
mungkin sama dengan yang bukan A ( a thing is not its opposite). Sebaliknya
dialektika menunjukkan peralihan dari satu identitas ke identitas lain. Madilog
adalah penerapan filsafat Marxisme-Leninisme: bukan ide yang menentukan
keadaan masyarakat melainkan sebaliknya, keadaan masyarakatlah yang menentukan
ide.
Tan Malaka pertama-tama tidak berjuang untuk kemenangan
partai komunis di seluruh dunia, tapi untuk kemerdekaan tanah airnya.
Kata-katanya kepada pemerintah Belanda sebelum dibuang : storm ahead (ada topan menanti di depan). Don’t lose your head (jangan kehilangan kepala). Arti harafiahnya jangan kehilangan akal dan jangan kehilangan kepala. Tragisnya, dia yang tak
pernah kehabisan akal di berbagai negara tempatnya melarikan diri akhirnya
kehilangan kepala di tanah air yang amat dicintainya.
-8 Januari 2017-


Post a Comment
0 Comments