Selamat Hari Guru (untuk yang benar-benar guru)
Pagi tadi, saya diingatkan seorang kawan "sudah kau ucapkan selamat hari guru untuk gurumu?” Saya baru tersadar, bahwa sekarang tanggal 25 November 😛. Dulu, semasa SMA, seperti biasa ada acara seremonial, upacara, nyanyi, bagi kado, bunga, tiup lilin, makan kue, pemilihan guru terfavorit, tergalak, dan terlucu. Dulu langganan setia predikat guru terlucu adalah pak J. Habeahan haha kami segenap mencintai bapak hahaha.
Dulu pemikiran saya semasa SMP dan SMA, belajar itu untuk mendongkrak nilai termasuk nilai UN agar nanti bisa lulus SNMPTN, masuk kampus favorit, dapat IP tinggi, jadi guru, dokter, insinyur, PNS (yang paling didambakan kebanyakan umat haha). Saya memang belajar dengan tujuan seperti itu, karena seperti itu yang dikatakan guru-guru saya dulu. Saya berpikir, apakah capaian seperti itu yang diharapkan dari sistem pendidikan kita?
Saya pernah baca sedikit konsep pendidikan Paulo Freire dimana fungsi pendidikan sebagai alat yang membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan dan ketertindasan (usaha untuk memanusiakan manusia). Pendidikan dipandang sebagai alat untuk membebaskan manusia supaya mampu mewujudkan potensinya.
Saya bertanya apakah pendidikan yang saya peroleh sudah betul-betul "membebaskan" saya sepenuhnya untuk mewujudkan potensi diriku? Dulu saya hanya berfokus pada target kuantitatif yang bisa diukur, harus dapat nilai 85,90,100, jadi juara, terdepan. Dan saya memang mendapatkannya, tapi ya orientasi saya tetap, jadi kaya, sukses plus masuk surga hahahha. Saya tidak memahami bahwa pendidikan itu sebagai transformasi ilmu pengetahuan yang menekankan pada proses pendewasaan berpikir, proses memaknai dan mengkritisi realitas sosial yang ada. Hingga dulu, nilai saya pernah jatuh, kemudian saya stress dan merutuki diri, karena orientasi yang ada di pikiran saya dulu hanya sebatas angka-angka, nilai tinggi supaya terlihat "keren" di mata orang. Jadi saya belajar lebih kepada meningkatkan "status sosial" di mata kawan-kawan (dan guru tentunya😛). Kenapa saya punya pemikiran seperti itu?
Itu tak terlepas dari sifat kebanyakan guru saya dulu yang 'melabeli' atau mengukur siswanya hanya sebatas lewat angka-angka yang diperoleh saat ujian, siswa yang nilainya rendah jadinya dipandang sebagai 'kelas kedua' di dalam kelas. Saya tak mau ikut dalam bagian itu, cara saya adalah dengan belajar lebih dibanding kawan-kawan. Saya dulu adalah penggembala kerbau, bahkan di atas kerbau pun saya selalu bawa kamus Bahasa Inggris 50 milyar, kamus 1 triliun hahhaa.. Saya ingin dapat nilai bagus maka saya belajar, tapi saya tak tau mau diapakan nilai bagus itu, yang terpenting nilai di rapor bagus. Bapakku senang. Sesederhana itu.
Hingga akhirnya seorang guru mengatakan kepada saya "burju-burju marsiajar
da, ase boi haduan pamajuhon hutatta on, unang sai lalap diparlalapan, ai
pamaretta dang dipardulihon i" (bagus-bagus belajar nak, supaya bisa
memajukan kampung kita supaya tidak terkungkung di ketertinggalan, pemerintah
kurang memperdulikan kampung kita). Saya jadi tersadar setelah itu, dengan
realita sosial yang saya alami, bagaimana pendidikan bisa sebagai alat yang
membebaskan manusia dari penindasan 'penguasa' dan mengkritisi realita sosial
dalam masyarakat. Dan harusnya orang-orang berpendidikan memiliki sikap kritis
dan pola pikir selangkah lebih maju. Dengan tujuan pendidikan yang seperti itu,
bagaimana mungkin hingga jaman now masyarakat masih meributkan agama, tata cara
beribadah, kafir-mengkafirkan, dan yang baru-baru ini heboh soal suku itu?
Terlepas dari hal itu semua, saya tak sanggup menuntut banyak kepada guru-guruku. Saya melihat di TV, pemerintah kita belum sepenuhnya memikirkan nasib para guru di Indonesia yang kesejahteraan dan kualitasnya belum merata. Ada guru yang meminta fasilitas pendidikan yang layak tak digubris oleh pemerintah setempat. Bahkan di SMA dulu, setiap pelajaran TIK selalu menghafal prosedur teknis dalam pengoperasian komputer dan menghayalkannya karena komputer di SMA kami masih 'ilusi'.
Guru yang mengabdi belasan tahun, belum mendapat kesejahteraan (upah) yang layak. Serius, ini terjadi pada mamak saya yang dulunya guru SMP, mengabdi belasan tahun tapi sekedar upah layak pun tak didapatkan hingga akhirnya memilih menjadi petani karena tak mencukupi. Saya juga membaca 'curhatan' guru SMP saya yang dipusingkan dengan urusan administrasi yang 'kompleks' untuk sekadar naik pangkat dan golongan.
Hormatku untuk para pejuang pendidikan di seantero Indonesia, wilayah-wilayah
terpencil, macam Sokola Rimba. Hormatku untuk seluruh guru di Indonesia, terkhusus Bapak dan Ibu guru saya di
Samosir, Sianjur Mulamula, dengan keadaan fasilitas pendidikan di sekolah kita
yang 'ala kadarnya', bapak & ibu tetap bertahan.
Selamat hari guru, Pak, Bu... 😃 tetap jadi insan
pembangun cendekia
-25 November 2017-

Post a Comment
0 Comments