WAKTU DAN ALLAH---epilog

(Ini tulisan Pak Sahat Siagian, orang yang dari tulisan-tulisannya di facebook (my friend since October 2017) I question everything and even fill my time with self-deprecating jokes wkwkwk).


Oleh : Sahat Siagian Apa sebenarnya waktu? Kita menetapkan durasi perputaran bumi mengelilingi matahari sebagai tahun; durasi perputaran bumi pada porosnya sebagai hari, membagi 1 hari ke dalam 24 siklus, membagi 1 siklus ke dalam 60 menit, dan membagi masing-masing menit ke dalam 60 detik. Secara faktual, waktu tak ada. Itu cuma kesepakatan. Relativitas waktu yang dilansir Albert Einstein menghadirkan keblingsatan. Kata Einstein, kecepatan waktu ketika bergerak-melalui-ruang berbeda dengan waktu statis. Begini penjelasannya. Anda dan si Polan mengenakan jam di tangan. Jam, menit, dan detik menunjukkan posisi sama. Polan berdiri, berada dalam jarak 20 meter. Anda duduk memperhatikan dia. Pada saat yang ditentukan Polan berjalan ke arah Anda. Menurut Einstein, jam di tangan Polan bergerak lebih lambat daripada jam di tangan Anda. Namun karena jarak yang ditempuh hanya 20 meter, perbedaan tersebut tak terlihat, tak terasakan, dan tak terlacak. Segerombolan fisikawan berupaya membuktikannya dengan seksama. Sebagian berdiam di satu tempat, sebagian lagi berangkat dengan pesawat dari keterpisahan sekian ribu kilo meter. Masing-masing rombongan—baik di darat mau pun di udara—membawa jam atomik yang menerakan waktu hingga ke pembagian 9.192.631.770 (sembilan milyar lebih) ketukan per detik. Apa yang terjadi? Waktu yang diperlihatkan pada jam di tangan mereka yang berada di pesawat, saat tiba di titik temu, ternyata memang lebih lambat satu per sekian milyar detik daripada waktu yang ditunjukkan di tangan mereka yang berdiam di titik temu. Ya, sepersekian milyar detik. Untuk perhitungan sederhana, perbedaan tersebut boleh diabaikan. Tapi bagaimana halnya jika Polan berada di seratus ribu tahun cahaya dari Jakarta? Sebelum itu mari kita pahami bahwa menurut Einstein tidak ada waktu tanpa ruang. Sebaliknya tidak ada ruang tanpa waktu. Keduanya saling mempengaruhi. Ruang dan waktu harus dilihat sebagai kontinuum. Kita lalu menyebutnya ruang-waktu. Katakanlah Anda dan Polan sama-sama berada di tanggal 23 Julli 2018, pk 09:30:30 wib (pukul sembilan lewat 30 menit lewat 30 detik). Dengan demikian posisi NOW Anda berada segaris, tegak lurus dengan posisi NOW Polan. Polan menaiki sepeda, tegak lurus ke arah Anda, dengan kecepatan 25 km/jam. Sekali lagi saya ingatkan, Polan berada di tempat yang sangat-sangat jauh, berbeda planet sekaligus berbeda galaxi. Namun pergerakan sepeda yang dikayuh Polan bergerak tegak lurus ke arah Anda. Sesuai uraian Einstein, jam di tangan Polan bergerak lebih lambat daripada jam di tangan Anda: sepersekian milyar detik. Dengan demikian, pada saat Polan menyentuh jarak tempuh di kilometer ke 25, posisi waktu Polan tidak lagi segaris dengan Anda, menyimpang, katakanlah, seperseratus milyar derajat ke arah bidang kanan ruang-waktu Anda. Namun karena Anda dan Polan berjarak seratus ribu tahun cahaya, kemencengan seperseratus milyar derajat itu menjadi sangat besar ketika jarum jangka menyentuh ruang-waktu Anda. Maka posisi NOW Polan berada di, mungkin, 50 tahun masa depan Anda. Artinya, pada menit ke-60 Polan bersepeda, jam di tangan Polan menunjukkan pk 10:30:30. Sementara jam di tangan Anda mungkin menunjukkan pk 11:10:27 namun di 50 tahun kemudian. Tepat di kilometer ke-25, Polan membalikkan arah sepeda untuk kembali ke titik darimana ia berangkat dengan kecepatan sama. Saat mencapai kilometer 0, jam di tangan Polan menunjukkan waktu pk 12:30:30, sama dengan jam di tangan Anda. Apa yang terjadi jika dari kilometer 0 Polan bersepeda ke arah bertolakbelakang dengan Anda? NOW Polan segaris dengan NOW Anda di 50 tahun silam. Jika di tangan Polan tersedia selpon yang terhubung dengan kamera di tempat Anda berada maka Ia melihat Anda sewaktu masih berusia 5 tahun, diantar Mama dengan menumpang becak ke sekolah. Polan hanya bergerak 1 jam ke depan dan 1 jam ke belakang tapi ruang-waktu Anda yang direngkuhnya berluas-jangka 100 tahun. Sekaligus dengan itu seluruh event yang berlangsung dalam hidup Anda ternyata masih dan sudah ada—baik di masa silam mau pun di masa depan. Secara empirik kisah di atas belum terbuktikan. Tapi berdasar percobaan yang dilakukan segerombol ilmuwan pada tahun 1971 ketika mereka terbang dengan membawa jam atom, teori Einstein menemukan kebenarannya. Kisah di atas hanya memultiplikasikan keterpisahan jarak dari 8,000 km ke 100 ribu tahun cahaya. Jika teori Einstein terbukti untuk keterpisahan jarak di bumi, itu harusnya berlaku untuk keterpisahan jarak 100ribu tahun cahaya. Anda di saat berusia 5 tahun ternyata masih ada. Anda berusia 80 tahun rupanya sudah ada. Kalau begitu atribut “masih” dan “sudah” tak lagi berlaku. Itu cuma ilusi. Masa lalu, hari ini, dan masa depan juga ilusi. Segala yang sudah berlalu dalam hidup masih dan tetap ada; segala yang belum terjadi dan teralami ternyata sudah ada. Sekarang, mari kita tabrakkan kisah di atas dengan prinsip-prinsip dalam keagamaan. Agama berkata bahwa semua manusia telah berbuat dosa. Mengatakan tidak terhadap nosi tersebut berarti menjadikan Alkitab sebagai pembohong. Pertanyaan saya, jika tahun depan Anda tidur dengan istri orang, bagaimana mungkin itu disebut dosa padahal berdasarkan kisah rekaan di atas bobo-nakal Anda dengan bininya Joni “sudah” terjadi sejak sekarang, bahkan sedari Anda lahir? Kalau “dosa” adalah sesuatu yang sudah terjadi sejak Anda lahir kenapa Allah Anak repot berinkarnasi di dalam Yesus untuk menyelamatkan manusia? Penyelamatan apa sebetulnya yang perlu dilakukan jika seluruh event dalam hidup Anda sudah ’tercipta' bahkan sebelum Anda lahir? Jangan-jangan berdasarkan Relativitas Waktu Einstein, doktrin penyelamatan dan penebusan Kristus cuma omong kosong, teologi over-heroic yang dibangun teologiman berkemiskinan ilmu dan pengetahuan. Dan kalau soteriologi adalah omong kosong, sebagai apa sebetulnya Yesus dalam hidup kita? Tuhan? Allah Anak? Nonsense. Saya bercuriga bahwa doktrin trinitas cuma buah keranjingan orang terhadap Pythagoras? Akan tiba masanya manusia berhasil membangun wahana yang membawa kita menjelajah ruang di jarak seratusan ribu tahun cahaya, atau mungkin lebih dekat, untuk membuktikan kisah tersebut. Kapan? Saya tak tahu. Bisa jadi di 5 atau 10 atau 15 atau 50 tahun mendatang. Ketika itu berlangsung, semua kitab suci lebih pantas disandingkan dengan buku dongeng para jomblo. Dosa tak ada, penyelamatan dan penebusan tak diperlukan. Siapa yang bilang? Yesus. Di mana dia mengatakannya? Di Alkitab. Sialnya kita lebih memilih untuk menyembah Allah yang melankolik sekaligus Allah yang fantastis. Kalau seluruh event hidup Jokowi, misalnya, sudah “dicipta” sejak sebelum ia lahir untuk menjadi Presiden Indonesia 2 periode, masih perlukah kita mengerahkan upaya memenangkan beliau untuk masa bakti 2019-2024? Masih. Kenapa begitu? Penjelasannya jauh lebih rumit daripada kisah si Polan bersepeda 1 jam ke depan dan 1 jam ke belakang. Saya akan memaparkan itu dalam buku "Adagium: Namaku Kenisha" yang terbit pada 5 Desember 2018. Ingatlah, anak Anda yang sudah meninggal, atau suami Anda yang sudah wafat, masih ada dan tetap ada. Jenazah mereka sudah terkubur. Tapi tubuh mereka sehat, demikian pula nyawanya. Si Doni bermain di halaman belakang, belajar membaca dari suami Anda. Mereka tergelak. Mereka berbahagia. Anda nimbrung ke tengah mereka lalu bernyanyi bareng. Lagunya gubahan Tony Koeswoyo: “Andai Engkau Datang Kembali”. Sementara 1 kilometer dari rumah Anda, sekumpulan teologiman asyik membangun doktrin, menyusun model teologi. Tentang soteriologi, tentang trinitas, tentang Allah yang berjalan dari masa depan, tentang darah Yesus yang menyembuhkan. Omong Kosong! Satu yang pasti, bahwa saya pamit dari Anda untuk kembali di 5 tahun depan adalah sesuatu yang sudah terjadi. Pertanyaan saya: berapa usia Anda ketika saya menulis status pertama nanti? Jangan-jangan waktu sudah meninggalkan Anda lebih dari satu abad. Sampai jumpa.

Post a Comment

0 Comments