We are one!!


Kadang aku merasa semua kita yg di bumi ini terkoneksi. Hal-hal yang terjadi detik ini adalah akibat dari keputusan detik, menit, jam, hari yg lalu. Keputusan siapa? Tak terduga-duga, gak cuman keputusan kita, tapi keputusan orang-orang yg bahkan tak kita sadari. Misalnya aku tergelincir gara-gara menginjak kulit pisang si Kokom di depan kantin yg tak sengaja terjatuh. Akibat tergelincir, omprengku (tempat makan) jatuh, dan aku disoraki seisi kantin.

Sebenarnya buah yg seharusnya dibagikan hari itu adalah rambutan, tapi tiba-tiba rambutan pada hari itu tidak sampai karena supir yg biasa mengantarkannya, berhalangan karena istrinya tiba2 ingin kawin lagi wkwkwk jadinya dia galau dan gak mood ngantar rambutan (oksip yg ini joke wkekek). Pak supir tiba-tiba berhalangan karena mendapat panggilan WA dari putrinya yg berkuliah di Berkeley University mengabarkan dia akan diwisuda beberapa waktu lagi, dan karenanya si Pak Supir harus mengurus passport hari itu juga.

Jadi apa yg bisa ditarik dari cerita (akal-akalanku) ini? Bayangkan, aku menanggung malu disoraki seisi kantin gara-gara putri si Pak Supir telah lulus di US. Hal ini berarti sesuatu yg terjadi di satu benua bisa menyebabkan suatu kejadian di benua yg lain yg tak terduga2. Artinya apa? Semua saling terkoneksi!

Karena kita semua interconnected dengan satu atau lebih cara, berarti ada sesuatu yg menghubungkan kita. Kenapa bisa terhubung? Asumsiku sebenarnya karena kita semua ada di satu 'induk' yg sama. Jadi, suatu 'kerusakan' di unit yg satu akan berdampak ke unit yg lain.

Ada nggak bukti scientific yg mendukung asumsiku ini? Aku pernah baca artikel di New York Times, yang isinya kira2 mengupas sebuah eksperimen yang dilakukan di Geneva. Eksperimen itu berupa pemotongan foton radiasi sinar UV menggunakan kristal potassium niobate. Saat foton displit menjadi dua bagian, kedua bagian tersebut dipisahkan dengan arah yg saling berlawanan menggunakan fiber optik. Saat keduanya mencapai ujung masing2 fiber, itu dianggap sebagai distance terjauh mereka. Saat bagian foton yg pertama diberi perlakuan tertentu (misalnya digerakkan), maka secara mengejutkan foton yg kedua juga bergerak identik seiring dengan pergerakan si foton pertama. Padahal nggak ada physical link yg menghubungkan kedua foton tersebut. Dan tau nggak, perbedaan jarak mereka 7 mil!
left-sidebar
Hal itu sekaligus mematahkan teori Mas Einstein yg menyatakan bahwa nggak ada yg lebih cepat dari kecepatan cahaya. Apa yg kudapat dari eksperimen itu adalah, tak ada yg membatasi sesuatu yg awalnya adalah satu kesatuan, neither time nor distance!

Katakanlah kita semua memang berasal dari debu tanah (sbg org beragama) walau sebenarnya aku lebih menyukai teori bahwa kita semua berasal dari debu bintang (walaupun suka atau ketidaksukaanku ga bakal mengubah apa-apa wkwk). Nah, dari partikel debu tersebutlah kita pada mulanya, dan kemudian partikel debu tersebut di'split' oleh energi maha dahsyat dan pada akhirnya menjadi kita dan lingkungan, menjadi biosfer. Artinya apa? Kita dan lingkungan/semesta pada dasarnya saling berhubungan dengan satu atau lebih cara. Coba hubungkan dengan partikel foton tadi! Artinya, aku adalah kau, dan kau adalah aku dan kita ngga ada batas-batas! Saat kesadaran kita berada di tingkat tertinggi, kita akan melampaui ras, suku, agama yg pada akhirnya kita anggap semu!

Kenapa sih aku bahas sampe ke foton, bintang, debu tanah? Wkwk. Sebenarnya aku tadi baru aja 'menyelamatkan' orang dari aksinya 'menenggelamkan' dirinya ke Danau Toba. Kenapa? Dia merasa tak punya tujuan dan makna hidup. Dia merasa menjalani hidup dengan keterpaksaan. Btw, jangan langsung menjudge bahwa dia ngga bersyukur, jauh dari agama, blablabla. Kau dan aku ngga tau apa yg telah dilaluinya sehingga kita gak berhak utk menghakiminya. 

Dia menjalani hidup sebagai anak teknik dan merasa itu bukan passionnya dan ini dibuktikan dari nilai-nilainya selama ini jauh di bawah standar kelulusan. Alasan dia masuk ke teknik gara-gara tuntutan orangtua, dan menjaga nama baik keluarga karena rata-rata keluarganya dari jurusan teknik semua. Praktis dia mengatakan bahwa dirinya bodoh, gak punya tujuan hidup, dan dia menganggap dirinya jelek. Dia bahkan menunjukkan fotonya bersama kawannya, untuk membandingkan dan menegaskan bahwa dia memang jelek. 

Komentarku apa? Dia hanya berada di lingkungan yg salah di mana standar kecantikan orang-orang adalah putih bersih, langsing, etc. Kalo aku ya, untuk apa cantik, ganteng & cool kalo otaknya goblok? Gabisa diajak diskusi?! Buatku cerdas itu sexy!

Saranku? Jalani dulu peran sebagai anak teknik dengan durasi waktu tertentu, kalo setelah itu kau merasa makin gak bergairah, resign-lah. Tapi harus ada ancang-ancang kau mau kemana setelah itu. Untuk itulah butuh yg namanya persiapan, karena setiap keputusan pasti ada konsekuensinya. 

Soal orangtua dan pandangan keluarga yang lain?

Karena aku agak bajingan wkwk, if I were you, aku bakal bilang: aku nggak minta dilahirkan, dan saat aku lahir, koq aku tiba-tiba dipenuhi dengan serangkaian tuntutan yg harus kujalankan walaupun aku tersiksa karenanya? 

Jadi karena kau nggak bajingan, (haha) omongkanlah baik-baik face to face dengan ortumu, berikan mereka pengertian yang masuk akal, dan yakinkan mereka bahwa kau akan bertanggung jawab sepenuhnya atas pilihanmu ini.

Soal pandangan keluarga lain yg membanding-bandingkan dan meremehkan? Jadi, begini, di situlah peran kita jadi filter. Menerima yg positif dan remove yg negatif. Di situlah pentingnya kita menerapkan sebuah seni untuk bersikap bodo amat (bodo amat pun ada seninya yha wkwkw bahkan bukunya pun ada, viral juga itu di sosmed (walopun orang yg ngepost itu belum tentu juga baca bukunya WKWKW) "The subtle art of not giving a fuck" punya Mark Manson).

Soal finansial? Aku ngga mengatakan itu bakal gampang. Tapi yakinlah, sesuai penjelasanku tentang foton sebelumnya, 'dirimu' dalam bentuk yg lain akan membantumu.  Aku berani mengatakan ini karena terwujud nyata berdasarkan pengalamanku dan dari pengalaman orang-orang yg aku tahu sendiri kisah hidupnya bagaimana.

Aku jadi teringat pidato Mas Zurkerberg tahun 2017 lalu di Harvard, bahwa tujuan hidup "seharusnya" tak hanya menjadi manfaat/berkat/anugerah bagi sesama tetapi lebih kepada tujuan yg lebih besar daripada itu. Apa itu? Menciptakan dunia di mana setiap orang memiliki kesadaran akan tujuan!

Masih ingat ngga kata-kata Paul Coelho yang juga hits itu "saat kau benar-benar menginginkan sesuatu, semesta akan mendukungmu untuk menggapainya." Karena apa? Kita adalah satu! Azeekkkk.


-Sunday, Oct'13rd , 2019-

Post a Comment

0 Comments