'Setahun’ volunteering


Seperti biasa kalau saya membaca satu buku, saya akan berusaha membuatkan catatan berisi pandangan ataupun sinopsis tentang buku tersebut dikarenakan otak saya yang hanya berkapasitas 1 MB wkwk sehingga catatan tersebut berguna untuk saya ‘contek’ sekiranya saya lupa. Tetapi kali ini bukan buku, melainkan suatu catatan perjalanan yang menurut saya worth it banget untuk saya sendiri, untuk kalian yg akan membaca ini, ya pokoke baca aja dulu. Soal bermanfaat atau engga bukan urusanku wkwk.

Saya bersama kawan-kawan volunteer yang terpilih dari seluruh Indonesia melakukan volunteering dengan tema Sustainable Development Goals (aku lupa poin berapa yg diusung) a.k.a pengabdian masyarakat yang digagas YECI Official ke Desa Ronggur Nihuta, desa yang terletak di daerah tertinggi Pulau Samosir. Kita memiliki berbagai latar belakang yang berbeda. Ada yang sudah bekerja, ada yg lagi menempuh pasca sarjana, ada yang masih mahasiswa, dan ada juga yg masih SMA. Itu dari segi pendidikan. Dari segi suku, agama, daerah asal hingga selera humor juga berbeda wkwk. Tapi justru perbedaan itu yang membuat kita melihat dan menertawakan sesuatu dari cara pandang yang berbeda.

 Apa aja sih yang sudah kita lakukan selama ‘setahun’ ini wkwk (27 Des’19-2 Jan’2020)?

-  Donasi buku, sembako, dan pakaian kepada masyarakat
-  Cek kesehatan masyarakat
- Pasang plang himbauan untuk tidak membuang sampah sembarangan
-  Operasi sampah organik dan organik
-  Sampah yang telah dikumpul dijadikan ecobrick
-  Membuat tong sampah dari bambu
-  EforSir (EnglishForSamosir) ke anak2
-  Sosialisasi PHBS ke anak2
-  Pembuatan taman baca
- Pembelajaran kreativitas ke anak2 hingga menghasilkan produk sederhana tapi bernilai
- Learn how to learn ke anak2 tentang pentingnya belajar matematika sekaligus mengajarkan aplikasi ilmu tersebut dengan membawa contoh robot
- Sosialisasi tentang seluk beluk perguruan tinggi beserta beasiswa ke anak SMA
- Penanaman bibit pohon mangga, rambutan, jambu, dan kacang Macadamia
- Membersihkan bukit “Cinta” dan menghiasnya sebagai  cikal potensi wisata alam mengingat daerah bukit tersebut berada di puncak tertinggi Samosir
- Sosialisasi pertanian organik kepada kelompok tani beserta praktek pembuatan pupuk organik dan pestisida alami
- Pembuatan desain alat pirolisis untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar (pipa kurang panjang dan suhu tidak terkontrol sehingga hasil tidak sesuai yang diharapkan)

 
Lagi berbagi kasih Natal lewat sembako dan senyuman :)

Sambutan masyarakat sangat baik, mungkin karena ada bagi2 sembako dan pakaian kali yha wkwk.  Tetapi satu yang membuat saya merasa goblok sekaligus pengin nangis adalah saat memberikan sosialisasi pertanian organik. Beberapa pertanyaan membuat saya merasa sungguh lancang sekali memberitahu metode pertanian dengan ilmu saya yang hanya modal membaca jurnal & text book dan konsultasi dengan dosen tanpa praktek langsung ke lapangan, apalagi latar pendidikan saya bukan dari bidang pertanian.

                                                      Sosialisasi pertanian organik


Nguli di Bukit Cinta

Move on dari kegoblokan saya wkwk, yang saya pikir menjadi PR kita bersama adalah bagaimana mewujudkan optimasi pertanian kopi dengan analogi menanam 500 batang kopi diperoleh hasil maksimal dibandingkan menanam berhektar-hektar kopi tetapi hasilnya tidak maksimal; bagaimana mencocokkan pH tanah dan ketinggian desa dengan syarat pertumbuhan komoditas pertanian yang sesuai; bagaimana mengatasi cabe keriting yang disebabkan hama trips; dan penerapan pertanian organik untuk menjawab pertanyaan2  tersebut. 
left-sidebar
Salah satu hal yang saya soroti di sini adalah ketersediaan air. Masyarakat di daerah ini mengandalkan air hujan dan Aek Tawar (semacam kolam air terbuka berukuran kurang lebih 250 x 200 m). Air hujan digunakan sebagai air minum dan Aek Tawar untuk mencuci dan mandi. Pertanyaannya, bagaimana kalau lagi musim kemarau? Saya bertanya2 kenapa alat filter air sederhana tidak dibuat dan disebarluaskan ke masyarakat? Bahannya juga sederhana seperti arang, ijuk, kerikil, karbon aktif, dan pasir. 

Pengolahan air di kota2 besar menggunakan media karbon aktif yang sebenarnya sama aja dengan arang, cuman lama pembakarannya yang berbeda. Untuk membunuh kuman patogen bisa ditambahkan desinfektan berupa klorin dengan takaran yang disesuaikan dengan volume air yang akan diolah. Solusi ini bahkan tak hanya bisa menjawab persoalan kekurangan air pada saat musim kemarau, tetapi juga bisa untuk memenuhi kebutuhan air sehari2 untuk minum + mandi + mencuci. 

Harapannya, masyarakat tak perlu repot-repot ke kolam Aek Tawar, toh teknologi dibuat untuk memudahkan manusia kan? Atau sesuai dengan diskusi saya dengan Mba Nani, mungkin masyarakat di sini menganggap persoalan kebutuhan air itu bukan masalah karena masyarakat sudah turun temurun terbiasa dengan hal itu mulai dari zaman moyang hingga ke cucu2nya. Hmmm... analoginya gini: kalau kita sudah terbiasa dengan udara bersih & segar  dan tiba2 kita pergi ke kota besar yang udaranya sesak, lantas kita merasa itu sebuah masalah tetapi masyarakat kota  menganggap itu sesuatu yang wajar.

Catatan penting adalah, sepertinya, sebelum melakukan program apapun itu, saya berpikir lebih baik mengidentifikasi apa sebenarnya  masalah yang terjadi di masyarakat dan mempertimbangkan apakah program yang ditawarkan akan menjawab permasalahan tersebut.

Kesan terhadap kawan baru di sini? Krik-krik awalnya, maklum baru-baru kenal, eh besok-besoknya juga ding wkwk, ada yg kentut sembarangan, ada geng barbar dari camp 2 demi mengumpulkan anak-anak jadi  batal ke gereja wkwk.

Geng barbar camp 2

Pokoknya  benar-benar mau jadi volunteer lah, walaupun ada beberapa yang sifatnya tidak terdefinisi. Yah, emang siapa yang bisa mendefinisikan sifat orang since hooman is super complicated, yes? Lagian orang bakalan berubah kan? 

Ada satu hal yang saya anggap menarik yaitu saat Mas Muhana dan tim kesehatan lainnya (yang notabene muslim) melakukan pemeriksaan kesehatan masyarakat di dalam gereja. Di saat ada beberapa orang yang berpandangan gak ‘seharusnya’ muslim masuk ke gereja tetapi demi program dan demi kemanusiaan, mereka dengan sukarela masuk ke dalam gereja. 

Sebenarnya kalau di dalam pandangan saya pribadi, toleransi itu sesuatu yang wajar, biasa aja dan memang sudah seharusnya. Tetapi, melihat kasus-kasus di Indonesia, toleransi itu seakan sesuatu yang mewah sehingga kalau ada kejadian di mana gereja menyediakan tempat parkir untuk orang yang lagi sholat atau kaum pemuda muslim yang menjaga keamanan gereja saat Natal, kita bersorak gembira akan hal itu. Padahal, ya biasa aja sih.  Pernahkah kita bertanya mengapa orang menjadi intoleran? Coba itu dulu yang kita renungkan. Mengapa orang tidak nyaman dengan perbedaan?


Lagi melakukan cek kesehatan, dimana hayoo?!


Ada yang belajar bersyukur setelah melihat segala keterbatasan di sana. Pertanyaan saya adalah, kenapa sih baru bisa bersyukur setelah melihat orang lain mempunyai keterbatasan? Bisa ngga sih kalo bersyukur ya bersyukur aja, tanpa harus membandingkan dengan yang lain atau bahkan tunggu melihat yang lain susah/kena musibah dulu baru bisa bersyukur. Manusia emang benar-benar kompleks ya?


-Jan 3, 2020-

Post a Comment

0 Comments